Hati-Hati Shalat yang Mengandung Kemusyrikan

  • Whatsapp
Hati-hati ada shalat yang mengandung kemusyrikan

Shalat adalah salah satu rukun Islam sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT dan disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW. Ihwal ini digurat pula dengan sangat jelas oleh Syaikh Salim bin Samir al-Hadhrami dalam kitab Safinah al-Najah pada fashl pertama.

Di dalam risalah tersebut Syaikh Salim juga menjelaskan beberapa hal pembahasan tentang shalat. Seperti rukun-rukun shalat, syarat wajib dan syarat sah shalat serta hal-hal lain yang perlu diketahui oleh seorang muslim dalam menunaikan ibadah shalat.

Read More

Dalam kitab Tafsir yang ditulis oleh Imam Ibnu Katsir, ada kisah yang sangat menarik yang diketengahkan oleh al-A’masy. Di mana suatu hari pernah datang seorang laki-laki datang menemui sahabat Rasulullah SAW Ubadah bin Shamit.

“Ceritakan padaku dari apa-apa yang hendak ku tanyakan padamu, bagaimana pendapatmu perihal seseorang yang menunaikan shalat dengan mengharap ridha Allah dan menyukai untuk dipuji?, ia bersdekah dan mengharap ridha Allah dan menyukai untuk dipuji, ia berhaji mengharap ridha Allah dan menyukai untuk dipuji”.

“Tidak ada sesuatupun bagi orang itu, sebab Allah SWT telah berfirman, ‘Akulah sebaik-baiknya dari sekutuan, maka barangsiapa yang menjadikan sekutu bagi-Ku, maka baginya sekutuan tersebut semuanya dan tidak ada lagi kebutuhan sekutu bagi-Ku”. Jawab Ubadah bin Shamit.

Dari sana kita dapat mengetahui bahwasannya shalat yang dilakukan oleh seorang hamba saban harinya, apabila didapati di dalamnya terdapat jentik rasa ingin dipuji oleh orang maka pada hakikatnya itulah shalat yang mengais benih kemusyrikan di dalamnya.

Sudah terang bahwa Allah SWT tidak menghendaki bila dipersekutukan dengan selain-Nya. Oleh karenanya segala amal kebajikan yang dilakukan oleh seorang hamba mestinya diniatkan hanya untuk menggapai ridha Allah SWT dan bukan karena susuatu yang lain, terlebih hal-hal yang sifatnya duniawi.

Dalam al-Qur’an Allah SWT dengan sangat jelas menyampaikan pula perihal ini sebagai berikut.

قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا ࣖ. الكهف: ۱۱۰

Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (Q.S. al-Kahfi:110)

Rasa ingin dipuji, riya’, ‘ujub adalah syirik khafi kata Nabi. Untuk mengatasi rasa ingin dipuji dalam diri yang kerap meraung-raung dalam kesamaran, Imam Syafi’i telah memberikan beberapa terapi yang dapat kita pakai.

Dalam kitab Siyar A’lam al-Nubala, Imam al-Dzahabi mengetengahkan salah satu nasihat Imam Asy-Syafi’i sebagai berikut. Pertama dalam beramal hendakna kita merenungkan keridhaan siapa yang hendak kita raih, Tuhankah atau makhluk?. Kedua alam kenikmatan mana yang hendak kita tuju, duniakah atau akhirat?. Siksa mana yang hendak kita hindari, Tuhankah atau makhluk?.

Dengan merenungkan ketiga aspek tersebut dalam setiap amal kita, maka setidaknya ada filter pikiran yang dapat berguna untuk membantu menjernihkan niat dalam segala amal kebajikan yang kita lakukan. Termasuk saat ini menunaikan ibadah shalat. Semoga kita terhindar dari rakaat-rakaat shalat yang di dalamnya terkandung jentik-jentik riya-ujub dan berbagai unsur kemusyrikan lainnya. Wallahu a’lam.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *