Kisah Imam Syafi’i dan Muridnya yang Lamban dalam Belajar

  • Whatsapp

Sudah menjadi fakta di dalam kehidupan dan memang menjadi sunnatullah dalam dunia pendidikan, bahwa ada murid yang cerdas menerima berbagai macam pelajaran dari gurunya dalam waktu yang relatif singkat. Namun ada juga murid yang cukup lamban dan perlu dijelaskan berulang-ulang untuk bisa memahami pelajaran dari gurunya. Rupanya Imam Syafi’i pun memiliki kisah tersendiri saat mengajar salah satu muridnya yang terbilang lamban dalam belajar.

Kisah ini dituliskan oleh Imam Baihaqi dalam kitab Manaqib Imam Syafi’i. Sudah mafhum pada umumnya bahwa Imam Syafi’i memiliki murid yang sangat banyak. Tidak jarang dari sekian banyak itu menjadi para punggawa-punggawa pengetahuan dalam berbagai disiplin ilmu. Namun yang cukup mengesankan dari apa yang ditulis oleh Imam Baihaqi tersebut adalah bagaimana cara Imam Syafii sebagai seorang guru mengajar salah satu muridnya yang mengalami kelambanan dalam memahami pelajaran.

Read More

Murid sang Imam tersebut memiliki nama ar-Rabi’ bin Sulaiman. Pelajar yang lain mengenalnya sebagai murid yang paling lamban dalam menangkap pelajaran. Tidak hanya satu atau dua kali diterangkan oleh sang guru Imam Syafii, tapi muridnya ini tetap juga tidak kunjung paham.

Hampir setiap setelah menerangkan pelajaran, Imam Syafii bertanya mengecek pemahaman murid-muridnya. Termasuk muridnya yang Bernama ar-Rabi’ bin Sulaiman. Dengan kesabarannya, sang guru mengulang lagi pelajaranya, lalu ditanya kembali, ”Sudah paham belum?”

“Belum”. Jawab ar-Rabi’.

Tidak hanya sekali atau dua kali Nabi menerangkan, Berulang kali dijelaskan bahkan sampai 39x ar-Rabi’ tidak juga kunjung paham.

Melihat rangkaian kejadian akhirnya ar-Rabi merasa bahwa dirinya telah membuat gurunya kecewa dan juga malu. Ia perlahan mundur pelan-pelan keluar dari halaqah ilmu tersebut. Selesai memberi pelajaran, Imam Syafi’i mencari muridnya itu. Setelah mandapati keberadaannya, Imam Syafi’i berkata, “ar-Rabi’ kemarilah, datanglah ke rumah saya!”

Sebagai seorang guru, sang imam begitu memahami apa yang dirasakan muridnya, maka beliau mengundangnya untuk belajar secara khusus.

Sang Imam mulai mengajar ar-Rabi’ secara khusus atau secara privat, dan beliau kembali menanyakan, ”Sudah paham belum?”

Ternyata hasilnya seorang ar-Rabi’ bin Sulaiman pun masih tidak juga kunjung paham.

Setelah berlangsung upaya yang demikian akhirnya Beliau berkata, “Muridku, sebatas inilah kemampuanku dalam mengajarimu. Jika kau masih belum paham juga, maka berdoalah kepada Allah SWT agar berkenan memberikan ilmu-Nya untukmu. Aku hanya menyampaikan ilmu. Allah-lah yang memberikan ilmu. Andai saja ilmu yang aku ajarkan ini sesendok makanan, pastilah aku akan menyuapkannya kepadamu.”

Mengikuti nasihat gurunya yang agung tersebut, Rabi’ bin Sulaiman mulai rajin bermunajat dan berdoa kepada Allah SWT dengan penuh kekhusyukan. Tidak hanya itu, Ia juga membuktikan apa yang didoakan dengan kesungguhan dalam belajar. Laku keikhlasan, kesalehan dan kesungguhan inilah amalannya Rabi’ bin Sulaiman.

Setelah menempuh proses yang panjang tersebut Rabi’ bin Sulaiman kemudian tumbuh berkembang menjadi salah satu ulama besar Madzhab Syafi’i. Ia juga termasuk ke dalam jajaran perawi hadis yang sangat kredibel dan terpercaya dalam periwayatannya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *