Ru’yatul Hilal Ramadhan di Indonesia

  • Whatsapp
ruyatul hilal ramadhan di indonesia
ruyatul hilal ramadhan di indonesia

Ru’yatul Hilal Ramadhan di Indonesia — Metodologi penentuan awal bulan Qamariah, baik untuk menandai permulaan Ramadhan, Syawal dan bulan lainnya harus didasarkan pada penglihatan bulan secara fisik (rukyatul hilal bil fi’ly). Sedangkan metode perhintungan astronomi (hisab) dipakai untuk membantu prosesi rukyat.

Jumhurul madzahib (mayoritas imam madzhab selain madzhab Syafi’iyyah) berpendapat bahwa pemerintah sebagai ulil amri diperbolehkan menjadikan ru’yatul hilal sebagai dasar penetapan awal bulan Qamariah, khususnya Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah, seperti yang terjadi di Indonesia saat ini.

Read More

Bila kita berbicara soal perbedaan pendapat, barangkali tak pernah kunjung selesai sampai kapanpun. Tapi manakala kita berlapang dada dan tetap menghargai perbedaan yang ada, namun bila secara bersama kita mengedepankan kebersamaan dan kesatuan langkah dalam hal ini, kemudian mengesampingkan perbedaan dalam arti bukan mempertajam.

Insya Allah hasil capai yang diinginkan akan menunjukkan angka yang positif. Sekedar ilustrasi ada baiknya penulis urai perbedaan-perbedaan yang mengemuka dengan kriteria-kriteria tertentu yang digunakan sebagai penentu awal bulan pada kalender hijriyah selama ini sebagai berikut :

Rukyatul Hilal

Ru’yatul Hilal Ramadhan di Indonesia — Rukyatul Hilal adalah kriteria penentu awal bulan kalender hijriyah dengan cara merukyah (mengamati) hilal  secara langsung. Apabila hilal (bulan sabit) tidak terlihat (atau gagal terlihat), maka bulan (kalender) berjalan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari. Kriteria ini berpegangan pada hadits Nabi Muhammad :

“Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal, jika terhalang maka genapkanlah (istikmal)”.

Kriteria ini di Indonesia digunakan oleh Nahdatul Ulama (NU), dengan dalih mencontoh sunnah Rasul dan para shahabatnya dan mengikuti ijthad para ulama  empat mazhab. Bagaimanapun, hisab tetap digunakan, meskipun hanya sebagai alat bantu dan bukan sebagai penentu masuknya awal bulan hijriyah.

Wujudul Hilal

Ru’yatul Hilal Ramadhan di Indonesia — Wujudul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan menggunakan dua prinsip : Ijtimak(konjungsi) telah terjadi sebelum matahari terbenam (ijtima’ qablal qhurub), dan bulan terbenam setelah matahari terbenam (moonset after sunset); maka pada petang hari tersebut dinyatakan sebagai awal bulan (kalender) Hijriyah, tanpa melihat berapapun sudut ketinggian (altitude) bulan saat matahari terbenam.

Hisab Wujudul Hilal bukan untuk menentukan atau memperkirakan hilal mungkin dilihat atau tidak, tetapi hisab wujudul hilal dapat dijadikan penetapan awal bulan Hijriyah sekaligus bulan (kalender) baru sudah masuk atau belum, dasar yang digunakan adalah perintah Al Qur’an pada  Q.S. Yunus : 5, Q.S. Al-Isra’: 12, Q.S. Al An’am : 96, dan Q.S.  Ar-Rahman : 5 serta penafsiran Astronomis atas QS. Yasin : 36 – 40.

Baca juga: Keutamaan Melaksanakan Ibadah Puasa

Imkanur – Rukyat

Imkanur rukyat adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang ditetapkan berdasarkan Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darusssalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS), dan dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan hijriyah pada Kalender Resmi Pemerintah dengan prinsip tersendiri.

Awal bulan (kalender) hijriyah menurut metode ini terjadi jika sebagai berikut. Yakni pada saat matahari terbenam, ketinggian bulan di atas cakrawala minimum 2 derajat, dan sudut elongasi (jarak lengkung) Bulan- Matahari minimum 3 derajat, atau pada saat bulan terbenam, usia bulan minimum 8 Jam, dihitung sejak ijtima’.

Rukyat Global

Rukyat Global adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) hijriyah yang menganut prinsip bahwa:  Jika satu penduduk negri melihat hilal, maka penduduk seluruh negeri berpuasa (dalam arti luas telah memasuki bulan Hijriyah yang baru) meski yang lain mungkin belum melihatnya.

Sebagai akibat dari perbedaan methode penentuan kriteria  inilah yang seringkali menyebabkan perbedaan penentuan awal bulan yang berakibat pula adanya perbedaan hari melaksanakan ibadah seperti puasa Ramadhan dan atau Hari Raya Idul Fitri.

Baca juga: Ibadah yang Disarankan di Bulan Rajab

Di Indonesia perbedaan tersebut pernah beberapa kali terjadi. Misal pada tahun 1992 (1412 H), ada yang berhari Raya Idul Fitri pada hari Jum’at 3 April 1992 mengikuti Arab Sa’udi. Ada yang  hari Sabtu 4 April 1992 sesuai hasil rukyat NU, dan ada pula yang hari Minggu 5 April 1992 dengan mendasarkan pada Imkanur-rukyat.

Penetapan awal Syawal juga pernah terjadi perbedaan pendapat yaitu pada tahun 1993, 1994 dan yang sangat menarik sebagaimana yang terjadi perbedaan penetapan awal Syawal 1432 H ( 2011 M),  bahwa  sidang Itsbat  memutuskan awal Syawal jatuh pada hari Rabu 31 Agustus 2011.  Sementara di kalangan Muhammadiyah tetap pada pendiriannya awal Syawal jatuh pada hari Selasa 30 Agustus 2011.

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *