Keutamaan Rahmat Allah SWT

  • Whatsapp

Keutamaan Rahmat Allah SWT — Manusia dimasukkan ke dalam surga karena rahmat-Nya yang diperoleh melalui sebab-sebab yakni amal shalih yang dilakukannya, bahkan amal saleh itu sendiri adalah bagian dari rahmat dan karunia Allah Ta’ala. Kita bisa ibadah, menuntut ilmu, itu adalah bagian rahmat Allah kepada kita.

Rahmat Allah selalu lebih besar dari dosa-dosa hamba-Nya. Karena itu harapan akan kasih sayang dan ampunan-Nya senantiasa terbuka selama seorang hamba tulus menaruh harap dan ketundukan.

Pendosa yang Takut Kepada Allah SWT

Keutamaan Rahmat Allah SWT — Rasulullah ﷺ pernah memaparkan dua hal kontadiktif ketika bercerita di hadapan sahabatnya tentang laki-laki yang bergelimang dosa sepanjang hidupnya. Karena kelakuannya ini, lelaki tersebut berwasiat kepada keluarganya agar saat meninggal nanti jenazahnya dibakar.

Tak hanya itu, ia juga berpesan kepada anak-anaknya agar usai hangus dilalap api, sebagian abu jasadnya dibuang ke daratan, sebagian lain di lautan. Wasiat ini muncul dari ketakutan mendalam. Si lelaki sadar bahwa Allah ﷻ kelak menyiksanya, dan skenario pembakaran dan pembuangan abu tersebut adalah siasat menghindari siksaan itu.

Dosa-dosanya menggunung, sementara kebaikannya nihil. Ia berharap bisa lolos dari azab berat dengan menghilangkan jejak jasmani. Ketika kematian itu telah tiba, wasiat pun dijalankan dengan baik oleh putra-putranya.

Allah ﷻ Mahakuasa. Saat orang tersebut meninggal dunia, Allah memerintahkan daratan dan lautan untuk menghimpun abu itu dan menghidupkannya kembali.

Allah bertanya kepada si laki-laki, “Kenapa kau melakukan hal ini?” “Karena khasyyah (takut), ya Rabb, dan Engkau lebih mengetahuinya.”

Baca juga: Keburukan Dosa dan cara Menghapusnya

Rasulullah mengabarkan bahwa lelaki itu akhirnya mendapat ampunan dari Allah. Lalu, di mana letak kontradiksinya? Di satu sisi lelaki itu berlumuran dosa namun di sisi lain menjelang kematiannya ia melakukan ibadah besar, yakni khasyyatu-Llah (takut kepada Allah).

Kisah ini tertuang dalam sejumlah hadits antara lain Shahih Muslim (4/2111) yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah dan Abu Said al-Khudri (nomor 2756, 2757), juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari di beberapa tempat dalam Shahih Bukhari.

Demikianlah sebuah kisah yang memberikan teladan bagi kita untuk senantiasa mengharap rahmat Allah SWT. Tiada batas waktu, usia, maupun takaran dalam meraih rahmat-Nya. Kapan pun, berapa pun, dan siapa pun laik untuk mendapatkannya.

Rahmat Allah SWT adalah bentuk kasih sayang Allah sebagai Sang Pencipta (Khalik) kepada yang Dia cipta (makhluk). Ia begitu luas terbentang bagi seluruh makhluk di dalam dunia. Bahkan, Allah menegaskan kepada Nabi Muhammad untuk mengatakan kepada orang-orang Yahudi yang berdusta bahwa rahmat-Nya begitu luas, ”Maka, jika mereka mendustakan kamu, katakanlah, ‘Tuhanmu mempunyai rahmat yang luas dan siksa-Nya tak dapat dielakkan bagi orang-orang yang berbuat dosa.”’ (QS al-An’am [6]: 147).

Faktor Teraihnya Rahmat Allâh Melalui Ayat-Ayat Al-Qur`ân

Keutamaan Rahmat Allah SWT — Maksud dari pembahasan ini adalah merangkum ayat-ayat al-Qur`ân yang secara eksplisit menyebut suatu amalan, atau memerintahkan suatu perbuatan, lalu ayat tersebut ditutup dengan la’allakum turhamûn (supaya kamu mendapat rahmat).

  1. Taat kepada Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

            وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan taatilah Allâh dan Rasul, supaya kamu diberi Rahmat”. [Q.S. Ali ‘Imrân: 132]

Amal-amal kebajikan dan ketaatan akan mendatangkan ridha Ar-Rahmân, masuk surga dan teraihnya rahmat. Oleh sebab itu, Allâh Azza wa Jalla berfirman, “Dan taatilah Allâh dan Rasul“ dengan menjalankan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan “supaya kamu diberi rahmat “.

  1. Mengikuti Kandungan Al-Qur`ân

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

 

وَهَٰذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan Al-Qur`ân itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi Rahmat”. [Al-An’âm: 155]

Al-Qur`ânul Karîm memuat kebaikan yang melimpah dan ilmu yang banyak. Ia menjadi sumber pengetahuan bagi seluruh disiplin ilmu dan dari sana, keberkahan dicari. Tidak ada kebaikan kecuali diserukan dan didorong oleh al-Qur`ân. Al-Qur`ân juga memuat berbagai macam hikmah-hikmah dan kemaslahatan.  Dan tidak pula ada keburukan kecuali al-Qur`ân melarangnya dan memperingatkan darinya, serta menjelaskan berbagai faktor agar orang menjauhinya dan selamat dari dampak buruknya.

  1. Menyimak Bacaan al-Qur`ân

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan apabila dibacakan Al-Qur`ân, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat Rahmat”.  [Al-A’râf: 204]

Baca juga: Mewaspadai Penyakit Hubbu Dunya

Ini adalah perintah umum terhadap setiap orang yang mendengarkan al-Qur`ân tengah di baca, agar ia melakukan istimâ’ (menyimak) dan inshât (memperhatikan). Istimâ’ ialah menyimak dengan telinga, fokus dengan hati dan mentadabburi apa yang ia dengar. Sementara inshât adalah meninggalkan pembicaraan atau apa saja yang menyibukkannya dari menyimak bacaan al-Qur`ân.

Dengan melihat betapa eratnya turunnya rahmat Allâh Azza wa Jalla dengan pengamalan kandungan-kandungan al-Qur`ân, maka setiap Muslim berkewajiban untuk berusaha keras memahami isi kitab sucinya, dan mengamalkannya dalam kehidupannya.

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *