Pakar Tafsir Bernama Ibnu Katsir

  • Whatsapp

Pakar Tafsir Bernama Ibnu Katsir — Ibnu Katsir adalah seorang hafiz al-Qur’an, ulama dan pemikir. Ia lahir pada tahun 1300 M di Busra, Suriah dan wafat pada tahun 1374 M di Damaskus, Suriah. Dalam bidang Fiqih beliau lebih cenderung menganut aliran Mazhab Syafi’i. Di antara Beberapa karya tulisnya yang paling terkenal adalah Tafsir al-Qur’ân al-Adzhīm dan Al-Bidâyah wa an-Nihâyah.

Dr. Muhammad Husain al-Dzahabi dalam kitab Tafsir wa al-Mufassirun menyebutkan bahwa ayah Ibnu Katsir adalah seorang khatib di kampungnya namun meninggal pada waktu Imam Ibnu Katsir baru berumur empat tahun. Sebagian pendapat mengatakan tiga tahun.

Rekam Jejak Pendidikan

Pakar Tafsir Bernama Ibnu Katsir — Pada usia lima tahun atau setahun sesudah ayahnya meninggal dunia, Ibnu Katsir pindah ke Damaskus (Syiria), tepatnya pada tahun 705 H / 1305 M. bersama kakaknya yang bernama Syaikh Abdul Wahhab. Bersama dengan kakaknya, ia mulai melakukan pengembaraan intelektual.

Tercatat guru pertama Imam Ibnu Katsir adalah Burhanuddin al-Fazari, seorang ulama penganut mazhab Syafi’i. Beliau juga berguru kepada Ibnu Taymiyyah di Damaskus, Suriah, dan kepada Ibnu al-Qayyim. Beliau mendapat arahan dari ahli hadis terkemuka di Suriah, Jamaluddin al-Mizzi, yang di kemudian hari menjadi mertuanya.

Dalam bidang hadis, ia belajar pada ulama Hijaz dan mendapatkannya dari Alwani, serta meriwayatkannya secara langsung dari para Huffaazh (penghafal hadits) terkemuka di masanya, seperti Syaikhuddin Ibn al-Asqalani dan Syihab al-Din al-Hajjar (w. 730 H.) yang lebih terkenal dengan sebutan Ibn al-Syahnah.

Baca juga: Al-Battani Astronom dan Matematikawan Muslim Klasik

Dalam bidang sejarah, Ibnu Katsir menerima peranan yang besar dari al-Hafidz al-Birzali (w. 739 H), seorang sejarawan dari kota Syam, yang terbilang cukup mahir dalam mengupas peristiwa-peristiwa seputar sejarah keislaman. Ibnu katsir mendasarkan periwayatan kitab tarikhnya pada karya gurunya tersebut. Berkat al-Birzali dan tarikh-nya, Imam Ibnu Katsir menjadi seorang sejarawan yang besar, dan karyanya dibidang sejarah sering dijadikan rujukan oleh para ulama dalam penulisan sejarah Islam.

Beliau selalu gigih dalam menuntut ilmu sehingga me-njadi masyhur nama beliau hingga keluar negeri Syam. Banyak ulama yang memberi ijazah-ijazah sanad kepada beliau dari Baghdad, Kairo, dan kota-kota lain-nya. Demikian juga banyak para ulama dan penuntut ilmu dari seluruh penjuru negeri datang kepada beli-au untuk mereguk ilmu darinya.

Beliau terus tekun menulis karya-karya ilmiah dalam fiqih dan ushulnya, hadits dan ushulnya, tafsi, dan ta-rikh hingga beliau kehilangan pengelihatannya, keti-ka beliau sedang menulis kitab Jami’ul Masanid wa Su-nan yang belum sempat beliau selesaikan karena data-ng ajal beliau pada tahun 774 H.

Kitab Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim

Pakar Tafsir Bernama Ibnu Katsir — Tafsir Ibnu Katsir juga disebut dengan istilah Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim yang berjumlah 10 jilid. Tafsir ini pertama kali diterbitkan di Kairo, Mesir, pada tahun 1342 H/1933 M. Tafsir Ibnu Katsir berkaitan dengan ilmu tafsir Al-Qur’an. Selain itu juga mencakup hadits dan terkenal hampir tanpa Israʼiliyyat.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir menyebutkan bahwa metode dalam memahami dan menafsirkan Al-Qur’an mesti melalui empat tahap. Pertama, menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan ayat-ayat lainnya. Kedua, menafsirkan Al-Qur’an dengan Hadits dan informasi Nabi. Ketiga, menafsirkan Al-Qur’an dengan perkataan (ijtihad) para sahabat Nabi. Keempat, menafsirkan Al-Qur’an dengan pendapat dari para tabiin.

Baca juga: Dokter Muslim bernama Al-Tabari

Ibnu Katsir memasukkan kisah-kisah israiliyat sebagai pengetahuan tambahan dalam kitabnya ini. Ia menambahkan kisah-kisah israiliyat berlandaskan kepada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abdullah bin Amru. Dalam hadis ini, Nabi Muhammad memperbolehkan untuk menceritakan kisah-kisah Bani Israil selama tidak disertai dengan kebohongan.

Wafatnya Sang Mufassir

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani berkata, “Beliau hilang penglihatan di akhir hayatnya dan wafat di Damaskus, Syam pada tahun 77 4 H/ 1373 M. Semoga Allah mencurahkan rahmat seluas-luasnya kepada beliau dan menempatkan beliau di Surga-Nya yang luas.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *