Hukum Membaca al-Qur’an Menggunakan Pengeras Suara

  • Whatsapp

Hukum Membaca al-Qur’an Menggunakan Pengeras Suara — Bulan suci ramadhan merupakan bulan suci yang amat istimewa bagi umat muslim di seluruh dunia. Bulan ini benar-benar dilimpahi begitu banyak keberkahan. Umat Islam akan berlomba-lomba menuai kebaikan di bulan rumadhan. Salah satu caranya adalah dengan memperbanyak bacaan Al-Qur’an.

Membaca Al-Qur’an di bulan ramadhan mampu mendatangkan begitu banyak keberkahan dari Allah SWT.

Read More

Ada berbagai macam keutamaan yang bisa diperoleh bagi siapa saja yang rutin membaca Al-Qur’an di bulan ramadhan. Beberapa keutamaannya antara lain adalah mendapatkan pahala berlipat ganda dan diangkat derajatnya oleh Allah SWT.

Nabi Muhammad SAW Bertadarus

Hukum Membaca al-Qur’an Menggunakan Pengeras Suara — Dalam satu riwayat dijelaskan jika bulan Ramadhan menjadi momen khusus bagi Rasulllah karena pada bulan tersebut beliau akan diajari malaikat Jibril tentang Al-Qur’an. Dasar anjuran ini tertuang dalam hadits Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas berikut,

 عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Artinya: Dari Ibnu Abbas berkata: Rasulullah SAW adalah manusia yang paling lembut terutama pada bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril as menemuinya, dan adalah Jibril mendatanginya setiap malam di bulan Ramadhan, dimana Jibril mengajarkannya Al-Quran. Sungguh Rasulullah SAW orang yang paling lembut daripada angin yang berhembus. (HR Bukhari).

Dengan demikian bulan Ramadhan semesetinya menjadi waktu istimewa bagi masyarakat pada umumnya untuk lebih fokus memperbanyak membaca Al-Qur’an.

Baca juga: Hukum Shalat Tarawih Sendirian

Hati-hati dengan Pengeras Suara

Hukum Membaca al-Qur’an Menggunakan Pengeras Suara —Dilansir dari NU Online, bahwa Tadarus maupun pemutaran kaset murattal qur’an dengan pengeras suara masjid atau mushala boleh saja. Akan tetapi tadarus Al-Qur’an dengan durasi panjang bahkan hampir sepanjang malam dengan menggunakan pengeras suara perlu dihindari karena dapat mengganggu orang yang sedang beristirahat atau orang yang memerlukan kondisi tenang.

Terdapat sebuah riwayat menceritakan saat Rasulullah yang sedang beri’tikaf menegur orang yang membaca Al-Quran dengan suara lantang:

عن أبي سعيد قال اعتكف رسول الله صلى الله عليه وسلم في المسجد فسمعهم يجهرون بالقراءة فكشف الستر وقال ألا إن كلكم مناج ربه فلا يؤذين بعضكم بعضا ولا يرفع بعضكم على بعض في القراءة أو قال في الصلاة

Artinya: Dari Abu Said, ia bercerita bahwa Rasulullah SAW melakukan i’tikaf di masjid. Di tengah i’tikaf ia mendengar mereka (jamaah) membaca Al-Qur’an dengan lantang. Rasulullah kemudian menyingkap tirai dan berkata: Ketahuilah, setiap kamu bermunajat kepada Tuhan. Jangan sebagian kamu menyakiti sebagian yang lain. Jangan juga sebagian kamu meninggikan atas sebagian lainnya dalam membaca.’ Atau ia berkata, ‘dalam shalat. (HR Abu Dawud).

Dengan demikian hukumnya makruh jika lebih banyak negatifnya. Lebih utama lagi jika banyak sisi positifnya dan haram jika terdapat orang yang sangat tersakiti atau sangat terganggu dengan suara Al-Qur’an tersebut yang bersumber dari pengeras suara.

Dilansir dari sanadmedia, menurut asisten mufti Lembaga Daarul Ifta’. Syaikh Ahmad Mamduh, mengeraskan bacaan al-Quran adalah tindakan yang bersifat merusak (merugikan) dan termasuk kemungkaran. Kitab suci al-Qur’an bukan kemungkaran namun perbuatan orang yang menginginkan itulah yang mungkar.

Baca juga: Lupa Membaca Niat, Bagaimana Puasanya?

Orang yang menyiarkan al-Quran dengan speaker luar masjid, apakah bermaksud hendak mengganggu orang banyak? Boleh jadi ada orang yang ingin istirahat tidur, mungkin pula ada yang sedang sakit (butuh ketenangan) dan barangkali ada yang sudah uzur (berusia tua).

“(Dengan melakukan itu), kamu telah masuk ke dalam ruang privasinya dan memaksanya mendengarkan al-Quran,” ujar Syeikh Ahmad Mamduh.

Oleh karena itu, pengurus masjid atau jamaah yang hendak tadarus Al-Qur’an dengan pengeras suara masjid atau mushala perlu mengetahui standar durasinya dan mempunyai tujuan jelas, yaitu mengingatkan masyarakat akan masuknya waktu shalat atau syiar. Wallahu a’lam.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *